Memahami Keislaman Bangsa Indonesia melalui Thariqah Alawiyah
On May 18, 2018 | 0 Comments

Source: Mizan

Sejak berabad-abad, perkembangan komunitas habaib di Indonesia, yang cukup besar jumlahnya, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bangsa Indonesia itu sendiri. Mereka ikut berperan dalam berbagai aspek sosial, keagamaan, dan politik Indonesia. Itu sebabnya penting untuk memahami dinamika internal komunitas tersebut untuk memahami kecenderungan yang lebih besar yang terjadi di dalam negeri.

Kamis 26 April 2018 bertempat di Auditorium gedung 1 FIB UI dilangsungkan sebuah acara seminar yang bertemakan “Dinamika Internal di Komunitas Habaib Indonesia”. Sesi ini merupakan rangkaian acara Festival Hadhrami yang diselenggarakan FIB UI.

Pembicara seminar ini terdiri dari Yasmin Zaky Shahab, staf pengajar di Departemen Antropologi FISIP UI; Ben Sohib, penulis cerita pendek, novel, skenario film, dan esai; dan Direktur Utama Mizan, Haidar Bagir.

Seminar dibuka dengan pembicara pertama, Yasmin Z. Shahab. Ia membahas tentang dinamika persebaran kaum hadhrami di Indonesia dari kacamata Antropologi.

Yasmin Shahab membeberkan temuan penelitiannya mengenai Habaib-habaib di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama samaran dibanding nama aslinya. Salah satunya yaitu Habib Ahmad bin Alwi yang lebih dikenal dengan Habib Kuncung.

Selain itu, Yasmin Shahab juga menjelaskan tentang kebiasaan berziarah masyarakat Indonesia. Dari hasil temuannya yang bersifat fenomenologi, ia melihat bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dalam kebiasan berziarah makam setelah berlangsung empat generasi. Ia melihat hal ini dalam peziarah makam Habib Kuncung.

Keunikan lain yang ia temui bahwa pada setiap peziarah-peziarah makam Habib Kuncung yang ia wawancarai, tak satupun mengetahui nama asli dari Habib Kuncung, yaitu Habib Ahmad bin Alwi.

 

Selesai pembahasan dari Yasmin Shahab, Haidar Bagir melanjutkan dengan presentasinya mengenai kemunculan Habib di Indonesia semenjak kebangkitan Islam dan disusul keberhasilan reformasi Indonesia. Kedua hal tersebut nyatanya berdampak pada kesempatan untuk memberi ruang yang lebih besar untuk tampilnya tokoh-tokoh yang biasa disebut sebagai habib atau habaib di dalam panggung Nasional.

Belum lagi yang membaca dampak besar itu adalah ketika kedatangan sekelompok atau berkembangnya sekelompok ulama yang biasanya kita sebut sebagai Walisongo.” Lanjut Haidar Bagir.

Ia menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui tiga gelombang:

  • Pertama, gelombang di abad ke 15-16 oleh keturunan dari Said Abdul Malik bin Ammar Fatih, yang tak lain adalah para Walisongo.
  • Kedua, gelombang di abad ke 18-19 yang merupakan keturunan dari Al Faqih Al Muqqadam yang melewati India kemudian Hijrah ke Indonesia.
  • Ketiga, sebagian dari kelompok yang sama, yang tidak melewati India tetapi dari Hadhramaut langsung ke Indonesia.

Menurut Haidar Bagir, pemahaman Keislaman dari ketiga gelombang ini kemungkinan sama. Hanya mungkin culturekeagamaannya yang sedikit berbeda. Kelompok yang sempat singgah ke India memiliki culture keagamaan yang lebih terbuka. Sementara kelompok yang langsung dari Hadhramaut ke Indonesia memiliki culture keagamaan yang lebih kompleks.

Kalo kita lihat geneologi para pemikir Tasawuf Nusantara, kita akan dapati hampir semua mereka itu nyantolnya jaringan Ulama Habaib, jaringan Ulama Thariqah Alawiyah. Tapi kini Habaib yang jadi guru mereka ini bukan Habaib yang berada di garis Thariqoh Haddadiyah (Thariqoh awam yang dibawa ke Indonesia).” ujarnya menjelaskan lebih lanjut mengenai Tasawuf Hadhramaut.

Menurut Haidar Bagir, jika kita ingin berbicara tentang akar-akar Islam di Indonesia, kita harus membahas tuntas tentang Tasawuf Hadhramaut yang disebut Thariqah Alawiyah ini. Hal ini karena pengaruhnya di dalam membentuk Keislaman di Nusantara sangat menentukan dan krusial.

Ini sangat relevan, ini sangat penting dan akan sangat bermanfaat untuk sebetulnya membantu kita secara sadar memahami Keislaman Bangsa Indonesia itu seperti apa dan mau dibawa kemana Keislaman Indonesia. Dan bagaimana itu bisa masuk sebagai salah satu unsur yang integral di dalam kebudayaan Nusantara ini.