Kisah Perempuan Hadhrami di Ranah Publik
On May 21, 2018 | 0 Comments

Source: Jurnal Perempuan

1/5/2018

Kamis (26/4), berlangsung talkshow dengan tema “Citra dan Keterlibatan Perempuan Hadhrami di Ranah Publik” yang merupakan rangkaian acara Festival Hadhrami di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Talkshow tersebut menghadirkan tiga perempuan yang memiliki garis keturunan Hadhrami sebagai pembicara, yakni Tsamara Amany Al-Atas (Politisi, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia), Rayya Makarim (Penulis naskah film dan sutradara), dan Sofia Balfas (Direktur Keuangan dan Direktur Operasional PT Bukaka Teknik Utama), dengan dipandu oleh Saras Dewi (Dosen Filsafat UI) sebagai moderator.

Baik dalam komunitas Hadhrami maupun di berbagai kelompok etnis lainnya di Indonesia, ada banyak stereotip tentang peran perempuan. Sekitar 80 tahun yang lalu perempuan Hadhrami tidak dapat keluar rumah tanpa muhrim mereka, apalagi di atas pentas atau ruang publik, seperti yang diceritakan dalam kisah Fatimah. Namun, saat ini perempuan Hadhrami telah melakukan perubahan besar dalam masyarakat. Tidak sedikit dari perempuan Hadhrami yang menduduki posisi penting di berbagai bidang dalam masyarakat. Talkshow ini menghadirkan tiga perempuan keturunan Hadhrami yang membagikan kisah dan pandangan mereka tentang perempuan Hadhrami di ranah publik. Ketiga pembicara yang hadir pada talkshow tersebut masing-masing berkiprah di dunia politik, bisnis, dan seni.

Tsamara Amany, membuka talkshow dengan memaparkan tantangan yang dihadapi perempuan Hadhrami di ruang publik secara khusus terkait pengalamannya sebagai politisi muda. Tsamara memaparkan bahwa sesungguhnya perempuan Hadhrami pun mengalami konstruksi sosial yang ada, konservatif dan kuasanya terbatas hanya di dapur, sumur, dan kasur. Konstruksi sosial yang demikian, menurut Tsamara, harus dibantah dengan kehadiran perempuan Hadhrami di ranah publik. Dalam kiprahnya di dunia politik dengan identitasnya sebagai perempuan Hadhrami, Tsamara menjelaskan, “Ketika kita sudah masuk ke dalam ruang publik, ketika kita ingin masuk ke dalam ruang politik maka hal terpenting adalah meninggalkan fanatisme buta atas golongan.” Lebih lanjut Tsamara mengatakan jika fanatisme buta dan subjektivitas akan golongan terus dipertahankan, maka hanya akan menghambat golongan tersebut untuk maju. Pertentangan atas pandangan dan sikapnya yang berbeda terhadap kebiasaan atau nilai-nilai etnis Hadhrami menurut Tsamara merupakan sesuatu yang harus dia terima dan hadapi. Bagi Tsamara, nilai-nilai dan kultur yang ada dalam etnis Hadhrami seharusnya tidak menghambat perempuan untuk maju, “Sebagai perempuan Hadhrami, saya tidak mau larut dalam emosi dan fanatisme buta atas golongan itu. Kita bisa cinta akan kultur dan tradisi Hadhrami namun itu semua tidak membuat saya menjadi anti akan golongan lain dan merasa paling superior.”

Sofia Balfas, membagikan pengalamannya sebagai pebisnis yang bagi keturunan Hadhrami dipandang cukup sulit untuk masuk ke bidang tersebut. Namun, tidak demikian bagi Sofia yang didukung penuh oleh ayahnya untuk berkembang sesuai dengan minatnya. Sofia mengatakan bahwa ayahnya mendidik dia dan saudara-saudaranya dengan semangat Hadhrami yang mengajarkan mereka untuk menjadi individu-individu yang kuat seperti kesatria. Oleh karena itu hingga saat ini Sofia berhasil menjadi pebisnis sukses, bagi Sofia, tidak ada alasan bagi perempuan Hadhrami untuk menikmati posisi-posisi tinggi. Mental kuat yang ditanamkan oleh keturunan Hadhrami akan membentuk perempuan Hadhrami sebagai pribadi yang kuat. Hambatan yang dialami oleh Sofia datang ketika dirinya harus menikah. Sofia menikah dengan seorang pria yang juga keturunan Arab, berpendidikan tinggi, dan dapat memahami serta menerima Sofia sebagai perempuan yang bekerja. Namun, kendala yang harus dihadapi adalah sang suami mengizinkan Sofia untuk bekerja asal tidak melupakan semua tugasnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

Rayya Makarim menyampaikan pandangannya yang berbeda dari dua pembicara lainnya. Perempuan yang memiliki profesi sebagai penulis naskah film ini menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa sebagai keturunan Hadhrami. Rayya yang tinggal berpindah-pindah negara dan mengalami diskriminasi dari lingkungannya, mengaku sejak lahir telah ditanamkan oleh orang tuanya untuk mengingat asal-usulnya, yaitu Indonesia. Bagi Rayya dirinya adalah seorang Indonesia meski ia pernah tinggal dan bersekolah di beberapa negara sebelum akhirnya kembali ke Indonesia untuk berkarya dan berkontribusi pada negara. Namun, ketika Rayya kembali di Indonesia, iayang merasa dirinya adalah sepenuhnya orang Indonesia justru kembali mengalami diskriminasi dari orang-orang sekitarnya yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang Arab, bukan Indonesia. Meski demikian hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Rayya, walaupun seorang keturunan Hadhrami, tetapi diri dan identitasnya adalah seorang Indonesia. “Dari kecil sudah terus-menerus dikasih tahu saya orang Indonesia, jadi hal itu sudah mendarah daging bagi saya. Saya pikir saya punya tanggung jawab dan saya punya sesuatu yang mau saya berikan untuk negara saya,” tegas Rayya. (Bella Sandiata)