Islam Politik dan Kegamangan Para Habib di Indonesia
On May 18, 2018 | 0 Comments

Source: Medan Bisnis Daily

Jumat, 27 Apr 2018 08:52 WIB  •  Dilihat 99 kali  •  http://www.mdn.biz.id/o/34453/
Islam Politik dan Kegamangan Para Habib di Indonesia

Medanbisnisdaily.com-Jakarta. Islam politik dianggap asing bagi kalangan habib di Indonesia. Aksi Habib Rizieq Shihab menggerakkan Islam politik-pun menuai pro dan kontra di lingkungan mereka.

Penulis keturunan Hadhrami, Ben Shohib, menyebutkan gerakan Islam politik kini tengah menjadi perhatian di kalangan habib. Pangkalnya adalah gerakan yang dilakukan oleh Habib Rizieq menggunakan pengaruhnya selaku habib untuk kepentingan politik. Para Habib-pun mendua menyikapi dakwah semacam ini.

“Ada video conference ceramah Habib Rizieq dari Arab Saudi disiarkan dalam sebuah acara milik salah satu habib, itu adalah salah satu bentuk dukungan. Tetapi ada juga yang tetap berusaha bertahan bahwa peran habib tak boleh masuk ke dalam politik,” jelasnya dalam Festival Hadhrami di kampus Universitas Indonesia, Kamis (26/4 ).

Habib yang bertahan dan cenderung tak setuju dengan gerakan Islam politik tak menyatakan secara terang-terangan. Mereka biasanya tetap bertahan dengan rutinitas tarekat dan cenderung mengajarkan penyucian batin dan badan. Pengajian yang mereka gelar diisi dengan doa wirid yang ditulis oleh pendahulu tarekat.

Ceramah keagamaan-pun diisi dengan khotbah yang menyejukkan dan tidak terkait kepentingan politik. Ben menganggap konsistensi pada tarekat merupakan bentuk perlawanan terhadap Islam politik yang digerakkan oleh Rizieq Shihab.

“Yang menolak itu seperti Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan dari Yayasan Al Fachriyah. Dia yang mengisi perayaan Maulid Nabi Muhammad di Istana Bogor pada 2017. Dia tidak menyebut langsung menolak gerakan Habib Rizieq tapi dari sikapnya jelas ia menolak Islam politik,” ungkap Ben.

Ben menceritakan pengalamannya sebagai keturunan Hadhramis ketika bertemu dengan habib. Mereka memiliki karakter yang hampir sama ketika melakukan komunikasi, yakni dengan lemah lembut dan berwibawa. Pembicaraan dengan mereka-pun selalu di sekitar ibadah agama. Sikap ini lain dengan gaya Rizieq yang terang-terangan membela salah satu calon gubernur dalam Pilgub DKI Jakarta 2015 lalu dan selalu bercermah dengan berapi-api.

Selain itu gerakan Islam politik yang diramu Rizieq telah menginisiasi istilah baru seperti Markaz Syariah dan Imam Besar. Dua istilah tersebut tak ada dalam pembicaraan para habib. Kalau imam itu ada, kata dia, tapi kalau imam besar tidak ada bahkan dalam hirarki habib.

Penulis buku Islam dan Direktur Utama Mizan, Haidar Bagir, menyampaikan tak ada masalah dengan kehadiran Islam politik. Perbedaan pendapat antar habib-pun tidak masalah dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan kelompok-pun juga terjadi diantara habib, ada yang mengikuti mainstream dan ada yang tidak.

Hanya saja ia memberikan catatan agar tidak ada unsur pemaksaan dan kekerasan dalam berdakwah. Karena munculnya kekerasan dengan embel-embel politik dan agama akan memberi angin kepada kelompok teroris untuk masuk dalam perbedaan pendapat.

“Yang kita masalahkan adalah pemaksaan dan penggunaan kekerasan, sejauh ini tidak ada wujud konkrit dari penggunaan kekerasan dan ancaman. Tapi kan ada kekerasan verbal. Jadi janganlah menggunakan kekerasan,” pungkasnya.(dtc)

Editor
HISAR HASIBUAN